Sial Gara-Gara DVD XXX ? - Tiga tahun lalu, saat permainan ketangkasan masih mewabah di rimba ini, kutemui si Bos yang masih asyik bermain di depan pujasera A1. Di tempat itu biasanya kami mengadakan ‘meeting’. Sebuah kemajuan, bercengkerama dengannya di sana. Sebelum-sebelumnya, aku mesti menemuinya di pub atau tempat karaoke.
“Tolong kasih si Jhon!” kata si Bos sambil lirik kiri-kanan sebelum menyerahkan bungkusan plastik yang diikat karet. Baru tahu bahwa bungkusan itu berisi 3 keping DVD XXX. “Dia mau pinjam seminggu…”
Tanpa banyak kata, kuselipkan 3 DVD itu di dalam baju. Setengah jam berikutnya si bos undur diri.
“Aku duluan, yah?!”kata si Bos, memintaku agar jangan lupa menyerahkan DVD itu pada si Jhon seraya mewanti-wanti agar ia mengembalikannya tepat waktu.
Hampir tiga jam menunggu Jhon yang tak juga datang, kuputuskan untuk pulang. Kutaruh 3 DVD itu di jok motor. Gerimis yang sudah mulai datang, membuatku memacu kendaraan dengan kencang.
Namun tak lama, kurasakan ban motor belakangku kempes. Syukurlah tak jauh dari tempat itu ada tambal ban yang masih buka. Padahal jam sudah menunjukkan 02.37 pagi.
Tiga puluh menit berikutnya, aku telah memacu motor kembali. Bekas hujan di jalanan, membuatku lebih berhati-hati untuk tidak memaksakan kendaraan dalam speedometer tinggi. Seratus meter sebelum simpang Kabil, ban belakang terasa kempes lagi.
Lucky morning!!! Masih ada tambal ban yang buka tepat di sebelah kanan simpang empat itu. Setelah tiga puluhan menit menunggu, kupacu kembali kendaraan menuju rumah di kawasan Bida Aasri, yang hanya berjarak 5 km dari tempat itu. Malangnya,…di depan Legenda Malaka, ban belakang sepertinya kempes lagi…
‘Please deh, ada apa gerangan?’ratapku dalam hati, sembari dag-dig-dug mencari tempat tambal ban. Setelah memastikan bahwa di tempat itu memang benar-benar tak ada tambal ban, dengan nekad kunaiki motor pulang. Bisa dipastikan bahwa ban dalam akan hancur karena ulahku ini. Namun apa boleh buat, daripada ku harus berjalan kaki, sambil mendorong motor sejauh 3 Km…
Esok paginya, kuminta seorang temanku untuk mengganti ban dalam, sebelum ia memakai motor itu. Dalam perjalanan ke Nagoya, di tengah jalan ban belakang motorku yang dipakainya lagi-lagi kempes.
“Padahal ban dalamnya baru, lho…”lapornya padaku. Iapun melanjutkan perjalanannya setelah ban belakang yang bocor telah ditambal dengan baik.
Siang harinya, temanku menelepon. “Ada apa sih dengan sepedamu? Ban belakangnya bocor lagi, tuch!”
“Mungkin lagi apes,”hiburku. Sebenarnya aku juga heran, mengapa belakangan ban sepeda itu sering bocor. Selalu di bagian belakang lagi…
“Udah ditambal. Moga-moga tak bocor lagi,”katanya ketar-ketir.
“Kalau gitu ganti aja sekalian ban belakangnya.”pintaku.
“Ganti ban luarnya?”
“Yup…mungkin ban luarnya yang bermasalah.”kataku, setengah asal dalam berbicara.
Sore hari, saat pulang ke rumah, temanku bercerita bahwa ia habis menambal ban belakangnya.
“Lho, bocor lagi?”tanyaku, setengah tak percaya. “udah diganti khan ban luarnya?”
“Udah. Nih, kuitansinya kalau gak percaya…!” kata temanku, rada dongkol.
“Kalau gitu, besok tolong bawa motor ini ke bengkel,”pintaku padanya. “Ganti velg belakangnya.”
Dua hari berikutnya, saat velg baru sudah terpasang, masih saja kudapati laporan dari temanku, bahwa motor itu masih kempes pada ban belakang. Entah mengapa, selalu saja ban belakang..!
Sebagai akibatnya, aku lebih memilih naik taksi jika bepergian kemana-mana. Termasuk juga saat berangkat kerja. Namun begitu, saat keesokan malam si bos mendadak menelepon dan mengajak ‘meeting’, dan saat itu tak satupun taksi melintas…
“Udahlah, bismillah saja. Pakai motor ini!”kata temanku, yang ikut mengantar di tepi jalan. Menanti taksi yang tak kunjung datang…
“Yeee…emangnya selama ini aku gak pernah baca bismillah?!”ucapku, agak sewot.
Dengan terpaksa kunaiki motor itu begitu melihat jam pendek telah tertera di angka Sembilan. ‘Mesti ngebut, nih…’rintihku.
Setelah beberapa menit memacu motor, baru kutahu bahwa bensin telah menipis. Indikatornya sudah menunjuk warna merah. Untunglah di kiri Sukajadi ada Pom bensin baru.
Saat membuka jok motor dan berniat mengisi bensin, pandanganku tertuju pada satu bungkus plastik yg diikat karet. Itulah DVD XXX yang tempo hari mau dipinjam si Jhon. Dengan cepat kuraih DVD XXX itu dan menyelipkannya di baju, sebelum petugas Pom bensin mengetahui isi bungkusan tersebut.
Sepanjang perjalanan aku jadi berpikir, Apakah karena DVD XXX ini ban belakang motorku bocor berkali-kali?!
Saat ‘meeting’, kuserahkan kembali DVD itu ke bos dan memintanya untuk menyerahkan sendiri DVD itu. Kukatakan padanya bahwa beberapa hari ini si Jhon tak kelihatan. Syukurlah perjalanan pulang dengan mengendarai motor itu berlangsung aman, tanpa ada gangguan harus mengganti ban karena bocor.
Berhari-hari kemudian, saat motor dipakai temanku berkali-kali, tak sekalipun kudengar complain darinya, tentang ban belakang yang bocor…!!!
Jadi berpikir lagi, Apa benar gara-gara DVD XXX itu?!
Sumber : Satu Rindu
